Minggu, 15 Januari 2012

Kehilangan sesuatu atau tidak menerima sesuatu yang kita harapkan itu terkadang membuat kita stress. Membuat kita menuntut Sang Khalik atas semua yang kita terima tanpa kita tahu apa maksud dan tujuan dibalik semua kejadian yang kita alami.

Tak jarang juga kita berharap bisa bermain sebagai Tuhan dengan mengendalikan waktu. Berharap bisa fast forward, rewind, start juga stop waktu kaya lagi nonton dvd.

Misalnya, waktu itu gua pernah kehilangan handphone pas gua masih kuliah. Waktu itu kejadiannya gua lagi di angkot mau ke terminal lebak bulus, mau naek bus ke Bandung. Tiba-tiba ada penumpang yang pura-pura kejang dan narik-narik celana gua. Gak berapa lama setelah itu, si penumpang tersebut turun. Dan setelah itu, seorang ibu-ibu yang duduk pas di depan gua bilang “Mas, coba di cek hapenya, biasanya yang kaya gitu maling.” Dan, benar hape gua (waktu itu masih jaya2nya Nokia N-gage) hilang, raib entah kemana. Gua batal pulang ke Bandung saat itu. Gua selalu berfikir, seandainya gua bisa ulang waktu, gua pengen colok mata penumpang yang pura-pura kejang itu biar dia batal maling hape gua.

Contoh kedua; Sekarang ini, kisaran umur 24-26 tahun, bahan obrolan yang paling sering gua temuin adalah “menikah”. Ada yang ceritanya senang, karena memang dia dan pasangan sudah mantap dan siap untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi ada juga yang ceritanya galau aja, karena memang di ceritanya belum ada kejelasan nasib tentang pasangan hidupnya. Kita ngerasa capek dengan segala ketidajelasan ini. Di posisi yang seperti inilah, kadang kita ngerasa pengen fast forward waktu, sampai di waktu kita sudah menemukan pasangan kita dan bersiap-siap untuk bahagia. Yah, intinya we want to skip the whole process.

Kemudian gua baca novelnya Paulo Coelho, yang akhirnya mendorong gua untuk menulis posting ini, ada Quote di dalam buku itu yang gua suka. Kira-kira begini quote yang ada di novelnya Paulo Coelho – Aleph

Is it possible to deviate from the path God has made? Yes, but it’s always a mistake. Is it possible to avoid pain? Yes, but you’ll never learn anything. Is it possible to know something without ever having experienced it? Yes, but it will never truly be part of you.

Keren banget, kejawab banget. Untuk cerita gua yang pertama, bisa aja sebenernya gua terus-terusan menyesali barang gua yang ilang itu. Tapi, bukannya bakal lebih baik kalau misalnya gua berpikir positif bahwa jodoh gua dengan barang itu memang telah usai.

Untuk cerita gua yang kedua, kalimatnya Paulo Coelho itu sudah jelas banget, kalau kita berusaha untuk menghindari capek dan penderitaan, kita gak akan pernah belajar.

So, guys. Live your own life, enjoy your pain, because your life, your pain for now, will help you to be a better person in the future. Have your own faith, and time will tell. :)

Advertisement